Articles by "SYIAH"
Tampilkan postingan dengan label SYIAH. Tampilkan semua postingan


Islam ChannelAntiLiberalNews – Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bachtiar Nasir menanggapi dengan santai kebijakan pemerintah tersebut. Dia pun mencoba mengambil sisi positif atas pemblokiran sepihak situs Islam itu.
“Pembredelan situs-situs Islam sangat bermanfaat untuk satukan gerakan Media Islam yang kuat. Bi idznillah,” katanya melalui akun Twitter, @bachtiarnasir (02/04).
Sebelumnya Tokoh muda Muhammadiyah sekaligus pengamat terorisme, Mustofa Nahrawardaya melihat keanehan dalam penutupan situs-situs Islam. Mustofa melihat, semua situs yang diblokir pemerintah memiliki kesamaan melawan ideologi Syiah.
“Yang aneh  dari semua tujuh website maupun 22 website lainnya  melawan satu kelompok sama, selama ini yang saya lihat, yaitu kelompok yaitu Syiah,” ungkap Mustafa di acara LIVE TV ONE “Lha Media Islam Kok Diblokir?, Rabu pagi, (01/03).
Mustafa mengingatkan jangan sampai Syiah yang bertujuan merebut negara justru memakai tangan BNPT untuk menutup situs media Islam.
Red : Maulana Mustofa

Mustofa Nahra : Mengapa Situs Islam Liberal Menebar Kebencian Tidak Diblokir BNPT

Live Tv one Mustofa Nahra Vs Irfam Idris BNPTAntiLiberalNews – Tokoh muda Muhammadiyah sekaligus pengamat terorisme, Mustofa Nahrawardaya, mempertanyakan kebijakan penutupan situs-situs media Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) atas perintah BNPT.
Menurut Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, website-website yang memicu pertengkaran, kebencian, memelintir ayat al Quran harus kita tutup karena menyebabkan radikal.
Sontak, Mustofa Nahra langsung bertanya, “Jika website-website yang memicu pertengkaran, kebencian, memelintir ayat al quran harus ditutup karena menyebabkan radikalisasi, mengapa situs Islam Liberal tidak ditutup,” tanya Mustofa dikutip AntiLiberalNews dari acaraLIVE TV ONE “Lha Media Islam Kok Diblokir?, Rabu pagi, (01/03).
“Nah website Islam liberal itu kurang apa itu menyesatkan orang indonesia, maksud saya begitu, orang Islam liberal ini lebih sesat, mereka mengadu domba antar umat Islam , antar firqoh , antar mahdzab, antar aliran, tapi kok dibiarkan saja, lanjutnya berapi-api.
Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) itu meminta agar BNPT agar tidak sembarangan menggeneralisr atau menerapkan standar ganda. “Makanya Prof jangan menggeneralisir website yang menebar kebencian sebagai radikal, nah sekarang kenapa JIL ini gak di panggil, panggil atau blokir dulu (situsnya-red).”
Disaat Direktur Deradikalisasi mau berdalih, Mustofa melanjutkan, “Jangan kemudian yang Islam-islam lurus ini anda blokir, yang sesat malah tidak anda blokir.”
“Lha ini kebalik, BNPT jangan terkesan, ikut memperkeruh persoalan umat ini, merusak, BNPT harusnya meluruskan, gitu bro, terang Mustofa.
Mustafa mengingatkan jangan sampai kelompok Syiah yang bertujuan merebut negara justru memakai tangan BNPT untuk menutup situs-situs media Islam. “Pak prof, di semua negara, saat ini milisi syiah houthi di yaman lagi berkembang, mereka ingin merebut negara, itulah yang berbahaya, jangan yang tidak berbahaya anda blokir,” tegasnya.
“Nanti malah akan ada pertanyaan siapa sebenarnya di belakang BNPT ini,” pungkas Mustofa.
Red : Maulana Mustofa


Komjen Pol Saud Usman Nasution Kepala BNPT Pada Seminar di Pembukaan Muktamar II ABI (Ormas Syiah)
Komjen Pol Saud Usman Nasution Kepala BNPT Pada Seminar Pembukaan Muktamar II Ormas Syiah ABI
AntiLiberalNews – Penyedia jasa internet (Internet Service Provider/ISP) bisa dibilang menjadi ujung tombak dalam proses pemblokiran. Hanya saja dalam kasus pemblokiran terbaru yang menyasar sejumlah situs yang dianggap radikal, ada setumpuk kekhawatiran dari para penggiat ISP.
“Yang saya khawatir ke depannya, BNPT akan seenaknya mencap sebuah situs radikal, ujar Irvan Nasrun, pemilik ISP yang juga Kepala Bidang Keamanan Internet Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) seperti dikutip Detik(31/08).
Ini tak cuma terkait Islam, ini juga seperti saat ada orang yang menuliskan yang aneh-aneh tentang presiden,”lanjutnya.
Padahal, Irvan menyarankan, untuk kasus Islami yang dianggap menyebarkan paham radikalisme, sebaiknya Kominfo berkoordinasi dengan Mejelis Ulama Indonesia (MUI) sebelum memutuskan pemblokiran.
“Ini kan situs-situs Islam. Karena pendekatannya beda yang disebut radikal itu apa? Kalau orang yang gak mau hormat sama bendera, apa itu disebut radikal? Mau mendirikan negara apa radikal? Padahal di situs-situs yang diblokir itu juga banyak informasi mengenai dakwah dan hukum Islam,” ungkap Irvan
ISP yang juga merupakan operator besar pun sampai ada mempertanyakan soal keputusan pemblokiran ini.
“Apa benar informasi ini. Banyak yang protes dari ISP, bahkan ada beberapa ISP yang tidak melakukan filtering karena meragukan data-data yang dikeluarkan BNPT. Soalnya dari ketika ditanyakan ke Kominfo, ini cuma dijelaskan ini permintaan BNPT dan tidak tahu alasan detailnya,” Irvan mengungkapkan.
Irvan menceritakan, ia mendapat email permintaan pemblokiran tersebut dari bagian Trust+ Kementerian Kominfo. Email itu ditujukan ke semua ISP, bukan ke APJII, dan tertulis ada 19 website yang perlu diblokir atas permintaan BNPT yang dikirimkan ke Kominfo.
“Nah, cuma sayangnya dari Kominfo tak dikroscek satu-satu. Cuma disebutkan alamatnya URL-nya saja karena dianggap radikal. Tapi radikal yang seperti apa kita juga gak tahu,” pungkas Irvan.
Red : Maulana Mustofa


teroris syiah ibrahim al habsyiAntiLiberalNews | Islam Pos – Sidang kasuspenyerangan jamaah Kompleks Az-Zikrakembali digelar di Pengadiran Negeri Cibinong, Bogor, Kamis (7/5). Persidangan kali ini menghadirkan lima terdakwa yang juga pelaku utama, di antaranya Ibrahim, Ida Bagus, Haratitis, Samsuri dan Syarifudin.
Berbeda dari sidang-sidang sebelumnya, kali ini Ibrahim memberikan keterangan baru. Ibrahim mengaku dirinya mengidap penyakit gangguan jiwa pada tahun 2005 silam dan memiliki ketergantungan resep obat agar penyakitnya dapat direda. Hal ini baru dikatakannya ketika persidangan memasuki tahap kelima.
“Saya sejak tahun 2005 mendapat gangguan psikologis. Tiga tahun terakhir berobat di RS Sukanto,” ujar dia di depan hakim sebagaimana dikutip Islam Pos.
Dalam persidangan kelima ini, Ibrahim membantah jika dia menganut keyakinan Syiah. Dia justru menyebut empat terdakwa lainnya yang menganut Syiah.
Namun berdasarkan keterangan Kanit I Resum Polres Bogor, Ipda Enjo Sutarjo SH, Ibrahim termasuk tokoh intelektual penyerangan ke Kompleks Az-Zikra. Jika Ida Bagus adalah koordinator penyerangan, maka Ibrahim berperan sebagai tokohnya.
Ibrahim sendiri berasal dari Ciledug dan ikut merancang skenario penyerangan.
“Setelah berkumpul di Ciledug, kelima pelaku utama ini langsung menuju Cibinong. Mereka ada yang naik mobil dan motor,” ujar Enjo saat ditemui Islampos di Polres Bogor, 14 Februari silam.
Sesampainya di Cibinong, kata Enjo, kelima pelaku utama segera melakukan koordinasi dengan massa yang telah menunggu.
“Dari situ mereka melakukan konvoi menuju Majelis Az Zikra,” ujar Enjo. Kelima pelaku utama ini sekarang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Dalam pengakuan kepada Islam Pos, Ibrahim mengaku dijanjikan sejumlah biaya oleh Ida Bagus untuk melakukan penyerangan ke Kompleks Az-Zikra.
“Saya dijanjikan akan dapat setelah penyerangan,” ujarnya sesaat setelah dijebloskan ke penjara.
Hingga kini, Pengadilan Negeri Cibinong belum memastikan apakah Ibrahim benar mengidap gangguan jiwa. Rencananya, Senin (11/5) mendatang, Hakim akan membacakan vonis kepada para terdakwa.
Red : Gus Jati


Sidang Kasus Penyerangan  Az Zikra CibinongAntiLiberalNews – Sidang kasus penyerangan dan pengeroyokan yang dilakukan pengikut Syiah di permukiman Az-Zikra Bukit Sentul, kembali digelar di Pengadilan Negeri Cibinong, Bogor, Rabu (29/04).
Dikutip Salam-Online, pada sidang kedua untuk 34 terdakwa ini jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan para saksi, di antaranya Kepala Penegak Syariah permukiman Az-Zikra Faisal Salim Ali Alkaf dan putrinya, Devina.
Faisal, korban pengeroyokan para penyerang yang mengaku sebagai pengikut Syiah itu memaparkan kronologis penyerangan dan pengeroyongan yang dilakukan terhadapnya.
Sementara putrinya, Devina, bersaksi terkait yang dilihatnya, termasuk saat ayahnya dikeroyok oleh sejumlah penyerang pada peristiwa yang terjadi Rabu 11 Februari 2015 jelang tengah malam itu.
Setelah memberikan keterangan kepada JPU dan penasihat hukum para terdakwa, majelis hakim bertanya kepada Devina, apakah ia mengenali wajah di antara para terdakwa. Devina mengenal wajah beberapa di antara mereka.
Hakim kemudian bertanya kepada para terdakwa, apakah membenarkan atau membantah keterangan saksi. Para terdakwa mengaku salah dan membenarkan keterangan saksi.
Selanjutnya para terdakwa yang diwakili oleh salah seorang di antara mereka memohon maaf atas tindakan mereka melakukan penyerangan dan pengeroyokan yang menyebabkan Faisal Salim mengalami luka serius dan harus beristirahat selama sepekan dari aktivitas.
Sebagai sesama manusia saksi Devina mengatakan memaafkan para terdakwa, tetapi proses hukum tetap berjalan. Ketua Majelis Hakim menimpali, “Tentu sebagai sesama manusia saling memaafkan, namun tak menghentikan proses hukum.”
Red : Maulana Mustofa


ustadz-anung-al-hamatAntiLiberalNews | Islam Pos – Pakar kajian seputar takfiri Syiah, Ustadz Anung Al Hamat M.Pd.I, menghimbau kepada masyarakat agar jangan hanya tersedot melakukan penolakan Idul Ghadir oleh pendeta Syiah M. Tawhidi, namun menganggap sepele event yang sama oleh kelompok takfiri Syiah lainnya di Indonesia.
“Idul Ghadir yang dilakukan ABI dan IJABI juga sama sesatnya. Apalagi mereka Syiah mayoritas di Indonesia,” ujar Ustadz Anung seperti dikutip Islam Pos pada Jumat (2/10).
Ustadz Anung memaparkan bahwa buku Antologi Islam yang dicetak penerbit Al-Huda jelas-jelas melakukan hujatan kepada Ummul Mukminin Aisyah dan sahabat Saad bin Abi Waqqash.
“ABI dan IJABI sama-sama berkiblat ke Khomeini. Kenapa ABI tidak menarik buku-bukunya?” tanya Wakil Ketua MIUMI DKI ini.
Ustadz Anung menilai bahwa penolakan ABI terhadap Tawhidi hanyalah strategi pencitraan agar kaum takfiri Syiah dapat diterima di Indonesia. Beliau justru mempertanyakan di mana letak perbedaan ABI dengan kelompok Syiah lainnya.
“Saya melihat mereka khawatir kedatangan M. Tawhidi dapat mengganggu program Syiah di Indonesia,” tandas Kandidat Doktor Universitas Ibn Khaldun ini.
Lebih lanjut, Ustadz Anung mengatakan bahwa perayaan Idul Ghadir dalam keyakinan Syiah bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka berkeyakinan Idul Ghadir adalah momentum pengangkatan Ali sebagai imam pengganti Rasulullah SAW. Maka bagi kaum takfiri tersebut, pengangkatan Abu Bakar, Umar, Usman sebagai kholifah tidak sah.
Syiah juga meyakini Idul Ghadir adalah hari raya yang lebih mulia dari Idul Fitri dan Idul Adha.
Ustadz Anung mengaku tidak heran jika melihat adanya perselisihan sesama takfiri Syiah, karena ternyata di antara mereka sendiri juga saling mengkafirkan satu sama lain.
“Husain Muayyad yang keluar dari Syiah juga dikafirkan,” ungkap beliau.
Karena itu, Ustadz Anung meminta masyarakat tidak terjebak pada penolakan Tawhidi, tapi juga perayaan Idul Ghadirnya.
“Dan perlu disampaikan kalau antar Syiah saja sudah saling sesat menyesatkan kafir mengkafirkan, apalagi sikap Syiah terhadap Ahlus Sunnah.”
Red : Gus Jati


Ayatullah ali khamaneiAntiLiberalNews – Kanada putuskan hubungan diplomatik dengan Rezim syiah Iran. Kanada melabeli Iran terlebih dahulu sebagai negara yang mendukung terorisme serta menutup kedutaannya di Tehran.
Sebagaimana diberitakan Washington Star News dan dikutip Islam Memo (30/9/2015), Menlu Kanada, John Baird, juga telah memutuskan ‘mengusir’ seluruh diplomat Iran di Kanada, pulang ke negaranya.
“Kanada memandang Pemerintah Iran sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan global di dunia saat ini. Kanada telah memasukkan Iran ke dalam daftar negara yang mendukung terorisme,” jelas Baird dalam keterangan persnya dikutip Dakwatuna.
Kanada juga melist berbagai kesalahan Iran, antara lain menolak resolusi PBB terkait program nuklirnya, menambah bantuan militernya untuk rezim diktator Bashar Al-Assad, dan melatih dan mendanai kelompok-kelompok teroris.
Ketika Barack Obama membuat berbagai kesepakatan dengan Iran pada awal September lalu, ternyata negara tetangganya, Kanada, melabeli Iran terlebih dahulu sebagai negara yang mendukung terorisme serta menutup kedutaannya di Tehran.
Red : Maulana Mustofa


teroris takfiri syiah iran rusuh di makkah 1979AntiLiberalNews | Islam Pos – Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap pengelolaan Ibadah Haji yang dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi. Menurut ANNAS, pelaksanaan Haji selama ini sudah baik dan bertolak belakang dengan propaganda yang dihembuskan negeri takfiri Syiah Iran.
“Ke depan, Pemerintah Saudi harus lebih selektif untuk hanya mengizinkan warga Iran yang Muslim saja untuk bisa berhaji dan berumroh,” ujar Ketua ANNAS KH Athian Ali M. Da’i, MA, dalam rilisnya seperti dikutip Islam Pos pada Senin (28/9).
KH. Athian mengatakan bahwa alasannya adalah karena jamaah takfiri Syiah dari Iran jika datang ke Tanah Suci sering kali melakukan keonaran. Negeri takfiri Syiah itu memiliki sejarah panjang dalam mengacaukan pelaksanaan Ibadah Haji.
Beliau mencontohkan pada tahun 1979, dimana teroris Syiah Iran yang membawa senjata api berusaha menguasai Masjidil Haram, merobek kiswah Baitullah dan membunuh para jamaah Haji sehingga darah membanjir dan jasad para jamaah Haji yang sedang beribadah bergelimpangan di sekitar Ka’bah.
“Lagi pula apa maksud mereka datang ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, sementara Tanah Suci dalam keyakinan mereka adalah Karbala yang karenanya setiap Sholat mereka berusaha sujud di atas sekeping semacam genteng yang tanahnya konon diambil dari Karbala, bukan dari Makkah atau Madinah,” ujar Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) ini.
Red : Gus Jati


AntiLiberalNews – “Manuver” duo Rafidhi Indonesia semakin menghebohkan. Sebagaimana diakui Emilia Renata AZ pada akun Facebook resminya, Ahad (11/10/2015),  isteri Jalaludin Rakhmat itu mengumumkan perceraian mereka. Hal tersebut diakuinya sebagai akibat dari perbedaan Marja atau ulama rujukan Syiah yang dianut masing-masing.
Setelah sebelumnya Emilia bercerai karena tersesat ke dalam Syiah. Kini wanita mantan isteri petinggi Syiah itu menyatakan, “Sekarang pisah karena disesatin lagi, karena jadi Shiraziyiin…,” demikian statusnya pada akun resmi Facebook-nya, Ahad (11/10).
Screenshot status Emilia Renata AZ pada Facebook resminya. (Foto: SM)
Screenshot status Emilia Renata AZ pada Facebook resminya. (Foto: SM)
Merespon kabar langsung dari Emilia tersebut, sebagian kalangan Ahlusunnah melihat berbagai indikasi Syiah Indonesia sedang bertaqiyyah kembali, setelah manuver politiknya terpublikasikan. Kini, keduanya memperlihatkan “seolah” nampak saling menyerang. Keduanya memanfaatkan isu konflik antara Marja Khomaeni yang diusung Jalal versus Marja Shirozi yang diusung Emilia.
Suara Madinah (SM) juga melaporkan kini terbukti bahwa, “…sesama Syiah saling mengkafirkan, menuduh dan mentahdzir satu sama lain,” Senin (12/10).
Emilia sendiri “mengaku” pada status di media sosialnya bahwa telah terjadi perseteruan antara Marja-nya sejak lama disebabkan mereka “tidak terima wilayatul faqih penguasa Iran.”
Dengan demikian, terbukalah bahwa Syiah telah terpecah menjadi berbagai blok. SM melansir bahwa setidaknya terdapat 4 blok Syiah berdasarkan Marja-nya, yakni Inggris (berpusat di London), Iran, Irak, Yaman, dan Libanon.
Sementara, keputusan “suami istri dedengkot Syiah Indonesia (yang) justru bercerai karena saling menjatuhkan bahkan mengkafirkan Imam masing-masing” ini tentu harus tetap diwaspadai kaum Muslimin Indonesia.
Semoga Ahlusunnah wal jamaah bersatu di atas kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aamiiin.
Red : Raihanah


Ustadz Solmed mengisi ceramah pada Haul Khomeini ke-20 di ICC Jakarta.Saat diklarifikasi tahun 2009, dia mengatakan bahwa Khomeini juga milik Ahlus Sunnah. (Foto: Kolangas)
Ustadz Solmed mengisi ceramah pada Haul Khomeini ke-20 di ICC Jakarta.Saat diklarifikasi tahun 2009, dia mengatakan bahwa Khomeini juga milik Ahlus Sunnah. (Foto: Kolangas)
AntiLiberalNews – Memanfaatkan follower yang awam, Ustadz Solmed, yang disebut-sebut berbagai kalangan sebagai Syiah yang sedang bertaqqiyah ini mengampanyekan tagar “Indonesia Darurat ‘Wahabi'”.
Beberapa hari terakhir ini, Ustadz yang bernama lengkap Sholeh Mahmoed Nasution ini, begitu vokal menyuarakan pemikirannya tentang “Wahabi” dengan konotasi negatif di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat melalui akun Twitternya @SholehMahmoed. Dalam kultwit terbarunya Jum’at (23/10/2015), Ustadz Solmed menuliskan twit yang berjudul “Indonesia Darurat Wahabi“, sebagaimana dilansir Elhooda.
Sebelumnya Ustadz Solmed juga telah menuliskan kicauannya yang berhubungan dengan permasalahan Syiah vs Wahabi di Indonesia. Menurutnya Syiah dan Wahabi itu seperti kotoran unta yang dibelah dua, sebagaimana dia kutip dari perkataan Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rahimahullah (wafat: 1.132H) dalam kitab “Tatsbiitul Fu-aad”.
Ustadz Solmed juga menjelaskan bahwa saat ini Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di tanah air ingin diajak oleh Syiah dan Wahabi terlibat konflik perseteruan mereka. Dia pun mengingatkan umat Islam akan bahaya Syiah yang gemar melakukan taqiyyah dan Wahabi yang gemar melakukan fitnah yang dapat memecah belah persatuan ummat. Kemudian, dia pun mengajak umat Islam untuk bersatu, dapat saling menghargai perbedaan dan tidak membesar-besarkan persoalan khilafiyah di tengah ummat, serta jangan biarkan perang saudara terjadi di negeri ini.
Berikut adalah kultwit Indonesia Darurat Wahabi oleh Ustadz Solmed (@SholehMahmoed):
1. INDONESIA DARURAT WAHABI (siap-siap dituduh Syiah). Tempat wahabi bukan di Indonesia. Indonesia itu tanah Ahlussunnah bukan tanah Ahlu fitnah.
2. Silahkan melakukan amal dari ajaran dan tafsiran gurumu tapi tak perlu kau hina orang yang beda amalan denganmu.
3. Kau fitnah yang tahlil dengan BID’AH. Kau fitnah yang ziarah qubur & berdoa kepada Allah di sana dengan SYIRIK. Perayaan maulid kau tuduh KELUAR SUNNAH.
4. Silahkan gunakan tafsiranmu untuk ibadahmu, jangan kau jadikan tafsirmu untuk menghina, mencaci & memaki saudaramu yang tidak sejalan denganmu.
5. Jangan menjadi virus perpecahan di tengah Ummat. Jangan kau tarik perang saudara & kepentinganmu di Timur Tengah ke tanah pertiwi kami Indonesia.
6. Kuatkan persatuan, perhatikan kepada siapa anak kita mengaji, tanya anak kita apa yang diajarkan gurunya kepada dia. Waallahul Musta’aan.
Merespon kultwit tersebut, netizen banyak yang “terpesona”. Namun, tidak sedikit pula mereka yang melihat unsur tendensius di balik pelabelan “wahabi” oleh Ustadz Solmed yang terkesan “anti-Arab” dan “ditunggangi JIN” itu. Wallahu a’lam bish shawwab.


FPI Sobri LubisAntiLiberalNews | Islampos – Maraknya perkembangan ajaran sesat Syiah lewat pelajar yang menuntut ilmu di Iran telah membuat prihatin berbagai elemen masyarakat Islam yang ada di Indonesia termasuk Front Pembela Islam (FPI)
Front Pembela Islam (FPI) lewat sekjennya ustadz Sobri Lubis mendesak kementerian agama agar menghentikan pengiriman para pelajar Indonesia ke Iran sebagai bagian dari antisipasi gejolak keumatan di akar rumput.
Menurutnya, penghentian mengirim pelajar Indonesia ke Iran agar paham Syiah tidak menyebar ke Indonesia yang mayoritas umat Islamnya adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
“Kementerian agama harus menghentikan pengiriman pelajar Indonesia ke Iran karena berpotensi menjadi Syi’ah dan menimbulkan gejolak keumatan di Indonesia setelah mereka pulang,” tegas Sobri dalam acara audiensi Forum Umat Indonesia (FUI) ke Kementerian Agama Rabu pagi tadi (25/2/2015).
“Namun bagi pelajar Indonesia yang sudah terlanjur belajar di Iran, maka mereka harus diberi pengarahan agar tidak terpengaruh ajaran Syiah dan menyebarkan Syiah di Indonesia,” terang Sobri.
Selain meminta menghentikan pengiriman pelajar Indonesia ke Iran, sekjen FPI ini juga mendesak agar Kementerian Agama menyatakan dengan tegas bahwa ciri umat Islam Indonesia adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah bukan yang lain.
Menurut laporan ada ribuan warga Indonesia yang menuntut ilmu di Iran dan banyak dari mereka ketika pulang ke Indonesia mendirikan yayasan, pesantren dan lembaga-lembaga lainnya yang secara terselubung maupun terang-terangan menyebarkan ajaran Syiah.

Majelis Az-Zikra : Semoga 34 Penyerang Az-Zikra Tobat atau Kita Jihad!

Ustadz Abu Ahmad Adz Dzikra Anti LiberalNewsAntiLiberalNews – Salah satu pengurus Majelis Az-Zikra asuhan Ustadz Arifin Ilham kembali angkat bicara terkait insiden penyerangan ke majelis tersebut beberapa waktu yang lalu.
“Hari ini, mari bersama kita doakan agar 34 tersangka yang sudah menyerang Majelis Az Zikra ini segera mendapatkan hidayah dari Allah dan kembali ke jalan yang lurus, jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah,” kata Ketua Divisi Dakwah dan Pendidikan Majelis Az-Zikra Ustadz Ahmad Syuhada dalam abligh Akbar ‘Umat Bersatu Kokohkan Aswaja untuk Lawan Syiah’ di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor, pada Ahad (22/2).
“Tapi apabila mereka tidak menyesali perbuatannya dan kembali menyerang, maka seperti kata Ustadz Arifin Ilham, kita akan Jihad!” tegas Ustadz Syuhada disambut pekik Takbir dari para jamaah.
Insiden penyerangan Az-Zikra terjadi pada Rabu (11/2) lalu, dimana sekitar 50 teroris takfiri Syiah mengeroyok dan menculik Habib Faisal Salim Al-Kaff, Ketua Komite Penegak Syariah Islam di Majelis tersebut. Dari ke-50 teroris itu, 34 orang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Bogor. Sementara itu, empat lainnya dibebaskan dengan alasan dianggap tidak terlibat dalam kasus tersebut dan sisanya diperkirakan melarikan diri.
Red : Gus Jat


jalaluddin RachmatAntiLiberalNews – Demi membela gerombolan teroris yang menyerang perumahan Majelis Adz Dzikra pimpinan Ustadz Arifin Ilham sekaligus agamanya, pentolan takfiri Syiah Indonesia Jalaludin Rakhmat (Kang Jalal) mengklaim bahwa mereka bukan berasal dari kalangan takfiri Syiah.
“Kenapa langsung menyebut itu Syiah? Itu bukan Syiah,” kelit pimpinan ormas takfiri Syiah Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI) itu saat diwawancarai CNN Indonesia, seperti dikutip Detik pada Kamis (12/2).
Namun, klaim dustanya itu belakangan terpatahkan oleh beberapa narasumber.
Kapolres Bogor, misalnya, menegaskan bahwa empat diantara 34 penyerang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka adalah penganut takfiri Syiah.
“Empat orang sudah mengaku Syiah. Pimpinannya bernama Ibrahim Al-Habsyi,” ujar AKBP Sonny Mulyanto saat menemui Ustadz Arifin di Masjid Adz-Dzikra pada Kamis malam seperti dilansir Islam Pos.
Sementara itu, data yang dimiliki oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Al-Kaff, juga menyatakan bahwa Ibrahim memang seorang takfiri Syiah.
Bahkan, lanjut Ketua Bidang Organisasi Al-Bayyinat Al-Islamiyyah Indonesia ini, keluarga besar Ibrahim Al-Habsyi yang tinggal di Surabaya merupakan takfiri Syiah tulen dan terkenal sebagai keluarga takfiri Syiah yang gemar menantang.
“Disaat Jalaludin masih pengecut, tidak berani ngaku Syiah, pelaku teror Ibrahim Al-Habsyi sudah terang-terangan ngaku Syiah. Ayahnya bernama Umar Al-Habsyi, sudah meninggal. Bahkan ibunya yang bernama Gamar terang-terangan ngaku Syiah. Alamat mereka di Surabaya, Sukodono gang 3. Semua orang didaerahnya kenal bahwa mereka keluarga Syiah,” tegas Habib Zein kepada Panji Mas pada Jumat (13/2).
Lebih lanjut, Ketua Umum Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Jatim ini mensinyalir bahwa ketidakberanian Jalal untuk menyatakan secara lantang bahwa dirinya penganut takfiri Syiah adalah karena takut didatangi oleh umat Islam. “Jalaludin takut tempatnya diserbu umat Islam,” ujar Habib Zein.
Sementara itu, informasi yang diterima oleh Panji Mas dari seorang warga keturunan Arab yang tinggal di Surabaya, juga menegaskan bahwa Ibrahim dan keluarganya merupakan takfiri Syiah tulen. “Syiah sekeluarga mereka. Waktu ada keluarganya yang mati, juga dibawain pecut (atau cambuk –red). Itu kebiasaan orang-orang Syiah kalau mati,” kata Balvas (bukan nama sebenarnya), pada Sabtu (14/2). (Detik/Islam Pos/Panji Mas)
Red : Gus Jat


Bogor-Kasubag-Humas-Polres-Bogor-AKP-Ita-PuspitalenaAntiLiberalNews | Salam-Online – Polres Bogor terkejut ketika dikonfirmasi wartawan tentang berita bahwa Kejaksaan Negeri Cibinong menolak berkas pengaduan untuk teroris Syiah yang melakukan penyerangan ke permukiman Muslim Az-Zikra, 11 Februari lalu.
“Bagaimana mungkin bisa ditolak, kan itu baru pada tahap pemberkasan pertama di kejaksaan, sedang diperiksa oleh pihak kejaksaan,” kata Kasubag Humas Polres Bogor AKP Ita Puspitalena di depan wartawan termasuk Salam-Online pada Selasa (10/3).
“Jadi tak ada penolakan. Dari mana kalian dapat kabar itu,” tanyanya kepada para wartawan.
Lalu seorang wartawan memperlihatkan berita di Tempo.co, Sabtu, 7 Maret 2015, berjudul ‘Kejaksaan Tolak Berkas Pengaduan untuk Jemaah Syiah Bogor’.
Dalam berita yang tanpa keterangan dari pihak Kejaksaan Negeri Cibinong maupun klarifikasi dari Polres Bogor, Tempo.co hanya sepihak memuat pernyataan pentolan takfiri Syiah Jalaluddin Rakhmat yang mengklaim Kejaksaan Negeri Cibinong menolak berkas pengaduan dari Majelis Az-Zikra atas penyerangan yang dilakukan teroris Syiah di Bogor.
“Berkas sudah dua kali ditolak dan dikembalikan ke Polres Bogor,” ujar Jalaluddin Rakhmat, sebagaimana dikutip Tempo.co, Sabtu (7/3).
Sesaat setelah sekilas membaca berita di Tempo.co yang ditunjukkan wartawan itu, AKP Ita Puspitalena, membantah pernyataan Jalaluddin tersebut.
“Kok bisa sih ngomong (bikin pernyataan, -red.) seperti itu ya. Kita kan harus nunggu dari kejaksaan, tidak bisa ujug-ujug (mengklaim) ditolak, pemeriksaan kan sampai 60 hari, dan ini termasuk cepat, kita kerja keras dan marathon, dibantu oleh polsek,” ungkap Ita.
“Ini kan baru pemberkasan pertama, kita belum bicara P19 dan P21, jadi tak ada cerita penolakan,” tegasnya.
“Ngapain juga nanggapin seperti ini. Yang penting kita kerja benar,” ujarnya.
Sementara itu sumber lainnya di Polres Bogor mengatakan, bagaimana mungkin kejaksaan menolak, sebab jelas-jelas ada penyerangan, bukti visum orang dianiaya, dan lainnya.
Sumber itu juga mempertanyakan berita yang diperlihatkan wartawan di Tempo.co yang menyebut ‘jemaah Masjid Az-Zikra melenggang bebas tanpa jeratan hukum apapun’. “Bagaimana sih itu berita, kan pihak Az-Zikra yang diserang, masak dijerat hukum,” tukasnya.
Dari pihak Kejaksaan Negeri Cibinong sendiri belum diperoleh konfirmasi. Karena saat sejumlah wartawan menyambangi kantor kejaksaan negeri yang bersebelahan dengan Polres Bogor itu psfs Selasa, baik Kajari maupun pejabat humasnya sedang dinas ke luar. Wartawan diminta untuk kembali lagi besok. (Salam-Online)
Red : Gus Jat


oase Komnas Ham Jalal Istri KaburAntiLiberalNews – Pada kamis sore (12/03/2015), lembaga Syiah Organization of Ahlulbayt for Social Support and Education (Ormas) mendatangi Komnas HAM. Mereka mengadukan sejumlah pemberitaan terkait tindakan kekerasan pengikut Syiah di Pemukiman Muslim Bukit Az-Zikra.
Dikutip Islampos, beberapa wartawan yang hadir di komnas HAM merasa kecewa karena undangan yang mereka terima berisi konferensi pers, namun ternyata hanya pengaduan dan tidak ada tanya jawab.
Bahkan Jalaluddin Rahmat beserta istrinya buru-buru meninggalkan lokasi ketika akan dimintai keterangan oleh sejumlah wartawan.
Organisasi yang banyak diisi pengurus Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) ini membawa serta anggota Komisi 8 DPR RI Jalaludin Rahmat, Emilia Renita (aktivis OASE), Bonar Tigor Naipospos (Setara Institute), KH Misbahul Munir, serta Ferdi Irwandi yang merupakan ketua Tim Hukum OASE.
Fokus utama OASE lebih ke peristiwa penyerangan kelompok Syiah ke kompleks majelis Az Zikra ustadz Arifin Ilham di Sentul yang kemudian berimbas kepada kelompok Syiah.
Menurut mereka – dalam pres rilis yang dibagikan kepada wartawan dan dibacakan oleh tim hukum OASE Ferdi Irwandi – insiden kekerasan itu tidak akan terjadi jika tidak ada spanduk tolak Syiah yang dipasang di kompleks Az Zikra.
Di depan komisioner Komnas HAM, Ferdi selaku tim hukum OASE, membacakan kronologis peristiwa yang terjadi di Az Zikra yang diklaimnya bukan penyerangan namun perkelahian.
Pihak Komnas HAM sendiri juga mencoba membandingkan kronologis peristiwa yang mereka miliki selama pemantauan di lapangan dan menurut mereka ada beberapa hal yang masih perlu didalami serta dikroscek ulang terkait insiden di Az Zikra.
Red : Maulana Mustofa


Fahmi Salim & Haidar BawazierAntiLiberalNews | Arrahmah – Ustadz Dr. Haidar Abdullah Bawazier, dalam acara bedah buku MUI “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” di masjid An-Nuur, Mahogany Residence, Cibubur pada Ahad (6/4), menyatakan bahwa langkah awal yang dilakukan oleh kaum Syi’ah untuk memasuki daerah dimana mereka masih minoritas adalah dengan melakukan taqiyah.
Beberapa bentuk taqiyah kaum Syiah yang biasa mereka lakukan, diuraikan panjang lebar oleh aktivis dakwah yang pernah menantang mubahalah salah satu tokoh Syiah Indonesia Habib Husein bin Hamid Al-Attas ini. Berikut ini adalah rangkuman yang telah disingkat menjadi 4 point :
1. Kaum Syiah mengaku dirinya Ahlussunnah.
2. Mengaku Syi’ah tapi mengatakan tidak menghina sahabat.
3. Mengaku bukan Syi’ah tapi mendakwahkan Syi’ah, isi dakwahnya merendahkan sahabat, hobinya merendahkan Muawiyah.
4. Menyebarkan slogan “Rapatkan barisan menuju Islam yang satu”. Namun ada yang aneh, “Kalau Islam yang satu itu tidak boleh mencaci sana-sini, tapi kok malah mencaci sahabat?” Demikian Dr. Haidar merasa heran.
Sementara itu Ustadz Dr. Fahmi Salim menambahkan, perkataan orang Syiah bahwa “Al-Qur’an kita dan mereka itu sama” adalah bagian dari propaganda atau pun salah satu cara Syi’ah untuk bertaqiyah.
“Ya, memang namanya sama-sama Al-Qur’an, tapi versi mereka berbeda,” ungkap alumni jurusan tafsir Al-Azhar ini.
Kaum Syiah, kata ustadz Fahmi, menyakini jumlah Al-Qur’an yang asli berjumlah 17.000 ayat, yang nantinya akan dibawakan oleh Imam Mahdi versi mereka. (azm/maududi/arrahmah.com)


Spanduk waspadai bahaya syiah di Masjid Mujahidin SoloAntiLiberalNews | VOA-Islam –Ternyata, ramainya isu “anti-Wahabi” dalam beberapa tahun terakhir adalah ulah Syi’ah. Perselisihan antara Wahabi (Salafi) dengan kelompok Aswaja merupakan propaganda Syi’ah untuk memecah-belah keluarga besar umat Islam di Indonesia. Keterangan ini disampaikan oleh Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim Zubair, M.A. dalam acara bedah buku MUI “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”, bertempat di masjid An-Nuur, Mahogany Residence, Cibubur pada hari Ahad (06/04) pagi.
Salah satu tim penulis buku MUI ini menghimbau kepada umat Islam pengikut ajaran Nabi SAW, baik itu Salafi, Muhammadiyah, Aswaja dan lainnya agar bersatu serta meninggalkan perselisihan dalam masalahfuru’iyyah.
“Yang penting kita satu koridor, sama-sama umat Islam,” tegasnya.
Ustadz Fahmi yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menilai, bahwa pihak yang paling diuntungkan dari konflik dan perselisihan antar sesama Muslimin adalah Syi’ah.
“Yang paling mendapat keuntungan dari perselisihan antara Salafi-Wahabi dan Aswaja adalah Syi’ah,” tuturnya.
Sementara Dr. Haidar Bawazier yang juga didaulat menjadi narasumber dalam acara tersebut menjelaskan, walaupun Aswaja dan Salafi berselisih, tapi rujukan mereka satu, Al-Qur’an dan Hadits. Perbedaan-perbedaan dalam masalah furu’iyyah bisa didudukkan oleh orang-orang alim diantara mereka, bukan bawahan-bawahannya. Sedangkan perselisihan dengan Syi’ah yang sudah jelas-jelas bukan Islam adalah perselisihan yang tidak akan pernah bersatu karena sudah masuk ranah ushuluddin. Dengan demikian, ajakan “ukhuwah Islamiyah” versi mereka hanyalah sebatas omong kosong belaka. [PurWD/umam/voa-islam.com]


Fahmi salim acara peduli mesir al azhar 3 agustus 2013AntiLiberalNews | Islampos – Bulan lalu, Jurusan Ilmu Agama Islam (JIAI) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pernah mengundang pentolan Syiah Indonesia, Jalaludin Rakhmat sebagai pembicara kuliah umum berjudul “Mencari Format Islam yang Moderat dan Berwawasan”.  Namun karena didemo oleh mahasiswa UNJ, Alhamdulillah Kang Jalal batal datang.
Masalah ini ditanggapi oleh Sekretaris Komisi Litbang MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, Lc.,M.A dalam acara bedah buku MUI berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”  Sabtu (12/4) di Masjid Nurul Irfan UNJ.
Menurut Ustadz Fahmi, UNJ sebagai kampus pendidikan yang menghasilkan banyak guru tidak pantas mengundang Kang Jalal. Sebab guru-guru inilah yang akan mendidik anak-anak bangsa dengan aqidah yang benar, sementara aqidah syiah sudah jelas menyimpang.
“Kalau JIAI mengundang Kang Jalal dengan dalih ‘kebebasan ilmiah’, maka ini tidak tepat karena ‘kebebasan ilmiah’ harus dipandu dengan nilai dan etika,” jelas Ustadz yang merangkap  sebagai Wakil Sekjen MIUMI (Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia) itu kepada Islampos, Kamis (17/4).
“Bagaimana jika seminar agama Islam mengundang orang murtad menjadi keynote speaker? Atau pantas tidak seminar parenting Islami mengundang lesbi/gay sebagai keynote speaker? Apakah itu ilmiah?” tanya Ustadz Fahmi secara retorik. [andi/islampos]
Foto by: Kajian Al Amiry

Jurnalmuslim.com – Bukan sebuah hal yang aneh jika para imam-imam syi’ah berada di peringkat pertama untuk memberikan semangat agar para pengikuti mereka melakukan nikah mut’ah dengan para wanita sewaan. Bukan hanya itu, bahkan mereka juga berada di peringkat pertama sebagai pendeta pelaku mut’ah. Hal ini tidak ragu lagi, anak kecil berumur 7 tahun pun sudah digauli oleh imam besar syi’ah Khumaini walau dia hanya melakukan tafkhidz (menggesek-gesekkan farji di antara kedua paha perempuan). Silahkan baca kisahnya disini.
Namun bagaimana reaksi para imam syi’ah jika ada orang syi’ah yang ingin melakukan nikah mut’ah dengan putri imam-imam syi’ah ? Apakah mereka ridha ataukah tidak ? Fitrah mereka tentu akan mengatakan “tidak”. Karena siapa yang ridha jika anaknya disewa dalam jangka 1 jam atau 1 hari, atau 1 minggu saja, dan diberi upah karena telah menyewakan kemaluan untuk lelaki berhidung belang.
Sayyid Husain Al-Musawi[1] bercerita mengenai imam Al-Khu’i:

جلست مرة عند الإمام الخوئي في مكتبه، فدخل علينا شابان يبدوا أنهما اختلفا في مسألة فاتفقا على سؤال الإمام الخوئي ليدلهما على الجواب

“Aku pada suatu ketika sedang duduk di sisi Imam Al-Khu’i di kantornya. Maka 2 orang pemuda masuk kepada kami dan terlihat mereka berdua sedang berselisih dalam sebuah permasalahan. Maka keduanya sepakat untuk bertanya kepada Imam Al-Khu’i untuk memberikan jawaban kepada keduanya.

فسأله أحدهما قائلاً: سيد ما تقول في المتعة أحلال هي أم حرام؟

“Maka salah seorang dari mereka bertanya: Wahai sayyid, apa pendapatmu mengenai nikah mut’ah? Apakah dia halal ataukah haram?”

نظر إليه الإمام الخوئي وقد أوجس من سؤاله أمراً ثم قال له: أين تسكن؟ قال الشاب السائل: أسكن الموصل وأقيم هنا في النجف منذ شهرين تقريبا

“Maka Imam Al-Khu’i memandangnya dan seakan-akan menangkap sesuatu dari pertanyaannya. Kemudian imam bertanya: “Dimana kamu tinggal ?” Maka pemuda yang bertanya tadi menjawab: “Saya tinggal di Mosul. Dan saya tinggal di sini di Najf sejak 2 bulan yang lalu”.

قال له الإمام: أنت سني إذن؟

“Imam bertanya kembali: “Kalau begitu kamu adalah seorang sunni?”

قال الشاب: نعم

“Pemuda menjawab: “Iya”.

قال الإمام: المتعة عندنا حلال وعندكم حرام

“Imam berkata: Mut’ah menurut kami halal namun menurut kalian adalah haram”.

فقال له الشاب: أنا هنا منذ شهرين تقريباً غريب في هذه الديار فهلا زوجتني ابنتك لأتمتع بها ريثما أعود إلى أهلي

“Maka pemuda berkata kepada imam: “Saya di sini sejak 2 bulan yang lalu kira-kira dan sendirian saja di rumah. Maka nikahkanlah aku dengan putrimu agar aku bisa nikah mut’ah dengannya sebelum aku kembali kepada keluargaku”.

فحملق فيه الإمام هنيهة ثم قال له: أنا سيد وهذا حرام على السادة وحلال عند عوام الشيعة

“Maka mata imam terbelalak kemudian berkata: Aku adalah sayyid dan menikahkan putrinya secara mut’ah adalah haram bagi sayyid namun boleh bagi awwam syiah”.

ونظر الشاب إلى السيد الخوئي وهو مبتسم ونظرته توحي أنه علم أن الخوئي قد عمل بالتقية.  ثم قاما فانصرفا، فاستأذنت الإمام الخوئي في الخروج فلحقت بالشابين فعلمت أن السائل سني وصاحبه شيعي اختلفا في المتعة أحلال أم حرام فاتفقا على سؤال المرجع الديني الإمام الخوئي

“Kemudian keduanya berdiri. Maka aku meminta izin kepada imam. Dan Pemuda tadi melihat kepada Sayyid Al-Khu’i dan dia tersenyum dan tahu bahwa Al-Khu’i sedang melakukan taqiyyah. Maka aku mengikuti 2 pemuda tadi, maka aku mengetahui bahwa penanya adalah seorang sunni dan kawannya adalah seorang syi’ah. Mereka berdua berselisih dalam permasalahan mut’ah, apakah dia halal ataukah haram. Maka keduanya sepakat untuk bertanya kepada marji’ Imam Al-Khu’i”.

فلما حادثت الشابين انفجر الشاب الشيعي قائلاً: يا مجرمين تبيحون لأنفسكم التمتع ببناتنا وتخبروننا بأنه حلال وأنكم تتقربون بذلك إلى الله، وتحرمون علينا التمتع ببناتكم

“Maka tatkala aku mengajak bicara kedua pemuda tadi, maka pemuda syi’ah marah sambil berkata: “Wahai orang-orang yang berdosa. Kalian membolehkan diri kalian untuk melakukan mut’ah dengan anak kami dan kalian katakan bahwa itu adalah halal dan kalian mendekatkan diri kepada Allah dengan itu, namun kalian malah mengharamkan kami untuk melakukan mut’ah dengan anak-anak kalian”.

وراح يسب ويشتم، وأقسم أنه سيتحول إلى مذهب أهل السنة

“Maka pemuda syi’ah tadi menghina, dan dia bersumpah untuk berpindah ke madzhab ahlussunnah”.
(Selesai kisah diambil dari kitab Lillah Tsumma Li At-Tarikh 1/38 )
(alamiry.net)/ jurnalmuslim.com, 06 Februari 2016
***
Buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul:
Mengapa Saya Keluar dari Syiah.
(nahimunkar.com)
Back To Top